Tak ada yang benar-benar bisa menebak bagaimana dua hati akhirnya dipertemukan — begitu pula dengan kami. Pertemuan pertama mungkin tampak sederhana, tapi siapa sangka dari percakapan ringan itu, tumbuh rasa yang perlahan tapi pasti mengisi hari-hari kami.
Ady dengan ketenangannya, dan aku dengan segala kehebohanku — kombinasi yang di awal terasa mustahil, tapi justru itulah yang membuat kami saling melengkapi. Kadang kami berbeda pendapat, tapi selalu ada tawa di antara perdebatan kecil itu. Katanya cinta itu bukan tentang mencari yang sempurna, tapi menemukan seseorang yang mau berjuang bersama dalam segala kekurangan — dan kami melakukannya, dengan cara kami sendiri.
Dari momen-momen sederhana seperti makan malam berdua, sampai saling menyemangati di masa sulit, kami belajar arti kebersamaan yang sesungguhnya. Waktu berjalan, dan tanpa terasa, perjalanan ini membawa kami ke hari yang paling kami tunggu — hari ketika “aku dan kamu” resmi menjadi “kita”.
Kini, kami melangkah ke babak baru dengan hati yang penuh syukur dan cinta. Kami percaya, cinta bukan sekadar kata, tapi janji untuk terus bertumbuh bersama, saling menjaga, dan tak lupa… tetap tertawa meski sedang kesal satu sama lain.